War Is an Art: Menelusuri Tradisi Peperangan di Kabupaten Karangasem

Budaya adalah representasi dari kegiatan manusia yang tercipta melalui karya dan karsa, serta memiliki nilai – nilai estetika yang sesuai terhadap unsur-unsur penyusunnya. Budaya yang dilaksanakan dalam skala besar (komunitas) disebut sebagai kebudayaan (Sumarto, 2019). Keberagaman budaya mencerminkan perbedaan dari representasi tersebut yang menyebabkan terbentuknya keberagaman kebiasaan, nilai – nilai, hingga tradisi pada masyarakat. Salah satu jenis tradisi yang memiliki unsur kebudayaan adalah tradisi peperangan.
Makna kata peperangan pada umumnya mengandung konotasi yang negatif seperti, permusuhan, penggunaan senjata berapi, dan pembunuhan. Peperangan sudah ada semenjak manusia membentuk peradaban di bumi ini (Hayati, 2020) dan sampai sekarang peperangan masih berlangsung dalam beragam bentuk, seperti perang politik, perang ekonomi, perang agama, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, pembahasan ini tidak akan membahas peperangan dalam makna demikian, melainkan sebagai tradisi yang memiliki tujuan tertentu dan nilai kebudayaan.
Salah satu kawasan yang akan menjadi fokus dalam pembahasan tradisi peperangan ini adalah Kabupaten Karangasem. Kabupaten Karangasem merupakan salah satu dari 9 kabupaten/kota yang terletak di Provinsi Bali, Indonesia. Masyarakat kabupaten Karangasem memiliki beberapa tradisi – tradisi peperangan yang tentu memiliki nilai kebudayaan dan juga tujuan spiritual. Secara popularitas, terdapat 3 tradisi perang di kabupaten Karangasem yang dapat menjadi daya tarik wisata antara lainnya Gebug Ende (Desa Seraya), Perang Pandan (Desa Tenganan), dan Perang Api (Desa Jasri).
Mulai dari Gebug Ende yang merupakan tarian adu ketangkasan rakyat di Desa Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Secara etimologi, kata gebug berarti pukul atau serang. Sedangkan, ende berarti perisai atau tameng yang digunakan dalam pertempuran atau tersebut. Sehingga, Gebug Ende dapat diartikan sebagai tradisi memukul tameng lawan dengan senjata yang disediakan (dalam kasus ini menggunakan kayu rotan). Tarian ini dibawakan oleh laki – laki dengan mengenakan pakaian adat sederhana tanpa baju, serta atribut pertarungan berupa tongkat dari rotan dan sebuah tameng (ende). Meskipun hal ini disebut tarian, tetapi pada pelaksanaannya tarian ritual ini tidak terlalu mementingkan keindahan dari bentuk tarinya (Gunarta, 2016). Pelaksanaan dari Gebug Ende ini lebih mementingkan tujuannya, yakni memohon hujan di musim kemarau pada sasih kapat (sekitaran bulan Oktober).

Gambar 1: Dua Orang sedang Melakukan Gebug Ende (Tribun-bali.com, 2016)

Asal mula tari Gebug Ende belum dapat diketahui secara pasti karena banyaknya versi cerita dari rakyat setempat. Secara singkat, pada abad ke-17 telah terjalin hubungan antara kerajaan Karangasem dengan kerajaan Pejanggik di Lombok. Sehingga berdasarkan hal ini, bahwa tari Gebug ini pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Karangasem yang melakukan ekspedisi ke Lombok. Hal yang mendukung teori ini adalah pernyataan bahwa Gebug Ende ini memiliki kemiripan yang tinggi dengan Tari Peresean dari Lombok.
Selain fungsi utamanya untuk memohon hujan di musim kemarau, Gebug Ende memiliki fungsi religi berupa kepercayaan masyarakat Desa Seraya bahwa darah yang tumpah ke tanah (tanah rah) diyakini membantu kesuburan tanah. Kedua, fungsi sebagai tari perang dan ketiga sebagai tari hiburan yang dapat dinikmati oleh orang – orang di Desa Seraya maupun orang – orang di luar Desa Seraya (Gunarta, 2016).
Selanjutnya, Perang Pandan yang berasal dari Desa Tenganan, Kecamatan Manggis. Berbeda dengan Gebug Ende yang menggunakan tongkat rotan sebagai alat utama serangan, Perang Pandan sesuai namanya menggunakan pandan berduri untuk menyerang lawannya. Sehingga, pertumpahan darah merupakan hal yang tak terhindarkan. Masyarakat Tenganan percaya bahwa darah yang mengalir dari tubuh penari merupakan simbol persembahan suci kepada Dewa Indra (Artadi, 2019). Adapun tujuan utama dari tradisi Perang Pandan ini adalah untuk memperingati momen peperangan yang dimenangkan oleh Dewa Indra melawan Maya Denawa (Raja kejam yang pernah memimpin Desa Tenganan di masa yang jauh lampau). Pada saat pertarungan, para peserta menggunakan tameng yang berasal dari anyaman rotan. Perang Pandan dilaksanakan setiap sasih ke-5 dalam penanggalan Desa Adat Tenganan (Desa Tenganan memiliki kalendarnya yang berbeda dengan kalendar Bali pada umumnya) pada siang hari, kurang lebih selama 2 hari berturut – turut.
Uniknya, peserta Perang Pandan dibebaskan dari kategori usia selagi peserta sudah siap mental maka peserta itu sudah memenuhi kualifikasi untuk ikut serta dalam perang pandan. Hal unik lainnya adalah pertarungan yang sembari diiringi suara dari Seloding (alat musik khas Kabupaten Karangasem) yang bertujuan untuk menambah semangat petarung. Pada pelaksanaan Perang Pandan setiap lawan dilarang memiliki perasaan dendam baik saat maupun pasca pertarungan. Selain itu, para peserta sebelumnya diberikan ritual persembahyangan juga yang bertujuan agar selama pertarungan dikuatkan dan diberikan keselematan.

Gambar 2. Keseruan Perang Pandan (liputan6.com, 2021)

Ketiga adalah perang api atau sering disebut sebagai Ter-teran yang berasal dari Desa Jasri, Kecamatan Karangasem. Makna dari pelaksanaan upacara Ter-teran ini adalah untuk menenangkan Bhuta Kala agar tetap ataupun kembali ke tempatnya masing – masing. Secara historis, upacara Ter-teran ini dilaksanakan berdasarkan adanya lontar tattwa yang menjelaskan bahwa masyarakat Desa Pakaraman Jasri harus melaksanakan upacara Ngusabha Dalem yang akhirnya menjadi latar belakang terciptanya tradisi Ter-teran Secara pelaksanaan, upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan Ngaci Usaba Dalem setiap 2 tahun sekali dengan tahapan – tahapan pelaksanaan upacaranya ada 6 yakni, tahap persiapan, tahap ngatag nyerit, upacara nyaru nyegaga, nyait cakep, pemasangan wang wing, dan puncaknya adalah upacara Ter-teran (Satriawati, 2014).
Tahap persiapan adalah tahap pertemuan atau diskusi awal terkait upacara Ter-teran ini bersama Bendesa Adat dan Kelian Desa Pakaraman Jasri. Selanjutnya, ngatag nyerit yang dilaksanakan 9 hari sebelum aci muu-muu dimana rakyat Desa Pakaraman Jasri tidak boleh menghaturkan canang dan bahkan tidak diperbolehkan melakukan Yadnya. Upacara ngatag nyerit dilaksanakan di perempatan jalan depan Pura Puseh Desa Adat Jasri. Kemudian, Upacara Caru Nyegaga yang dilaksanakan 6 hari sebelum upacara Ter-teran dimana tiap rakyat wajib melakukan pecaruan. Tahap keempat adalah Nyait Cakep (3 hari sebelum Ter-teran) dimana mempersiapkan bahan – bahan caru berupa busung dan nantinya caru tersebut didasari 9 macam ayam. Untuk cakepnya berisi daging sapi dan jeroan sapi. Pada tahap kelima terdapat Pemasangan Wang Wing (sehari sebelum Ter-teran) dimana dipasangnya wang wing di pintu masuk yang berisi daun tiying, daun paya, daun liligundi, dan pandan (Satriawati,2014). Terakhir, puncak acara adalah pelaksanaan Ter-teran dimana terdapat 2 kubu (Jasri Kaler dan Jasri Kelod) masing – masing orang harus menghindari lemparan api yang ditujukan padanya selama 3 kali putaran (ronde).

Gambar 3. Pelaksanaan Ter-teran (Kemendikbud.go.id, 2017)

Kesimpulannya adalah berdasarkan penjelasan – penjelasan tersebut bahwa perang bukanlah sebuah kejahatan mutlak, melainkan wujud seni dengan catatan memiliki tujuan ber-Yadnya, dilaksanakan secara tulus ikhlas, dan melalui ritual – ritual persembahyangan tertentu. Sehingga hal ini berbeda dengan peperangan, seperti perang dunia I dan II yang dulunya membawa kerusakan dan korban jiwa yang sangat fatal. Namun, peperangan dalam aspek keberagaman budaya dapat dimanfaatkan untuk menjadi potensi – potensi wisata atraksi yang mampu menarik wisata mancanegara. Oleh karena itu, setelah menelusuri tradisi pepeangan di Kabupaten Karangasem tentu menyatakan bahwa tradisi perang adalah tradisi yang sebaiknya dilestarikan secara bersama – sama karena peperangan bukanlah kehancuran semata melainkan War is An Art.

 

Penulis:
I Kadek Pasek Kusuma Adi Putra – Bagus Karangasem 2021

Sumber-sumber:
Artadi. 2016. Analisis Ritual Perang Pandan Berbasis Perspektif Diakronis di Desa Wisata Tenganan Pegrisingan.
Dewi. 2021. Dewa Indra dan Tradisi Perang Pandan Desa Tenganan Bali. Tersedia (online) pada : https://www.liputan6.com/ . Diakses pada tanggal 21 November 2021.
Gunarta. 2016. Gebug Ende : Ritual Untuk Memohon Hujan.
Hayati. 2020. Jurnal Penelitian Politik. Vol.17, No.1, Juni 2020
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Mengusir Bhuta Kala Melalui Tradisi Ter-teran. Tersedia (online) : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/. Diakses pada tanggal 21 November 2021.
Lugas, 2016. Tradisi Gebug Ende di Pemuteran, Ritual Meminta Hujan. Tersedia (online) : bali.tribunnews.com. Diakses pada tanggal 21 November 2021.
Satriawati. 2014. Tradisi Ter-teran di Desa Pakraman Jasri. Potensi Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA.
Sumarto. 2019. Budaya, Pemahaman dan Penerapannya. Aspek Sistem Religi, Bahasa, Pengetahuan, Sosial, Kesenian, dan Teknologi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *