Spirit Tradisi Mesuryak di Banjar Bongan Gede Tabanan

Selain memiliki keindahan alam, Bali juga memiliki beraneka ragam tradisi dan budaya. Hampir seluruh kabupaten dan kota memiliki tradisi yang unik misalnya, Tenganan  di Kabupaten Karang Asem terkenal dengan tradisi Perang Pandannya, Kabupaten Klungkung dengan Dewa Mesraman yang diselenggarakan di Banjar Timrah, Kecamatan Dawan, Kabupaten Bangli dengan tradisi mayat yang tidak dikubur di desa Trunyan, Kabupaten Gianyar dengan tradisi Mesabatan Api yang diselenggarakan di Desa Adat Nagi, Ubud pada saat hari Pengerupukan, Kabupaten Badung dengan tradisi Mekotek di desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Buleleng dengan tradisi Nyakan Diwang di desa Ambengan, Kabupaten Jembrana dengan tradisi Makepung. Kabupaten Tabanan tidak ketinggalan. Kabupaten Tabanan juga memiliki tradisi unik yaitu tradisi Mesuryak.

Mesuryak berasal dari kata suryak lalu mendapat awalan ‘me’ menjadi mesuryak yang berarti bersorak. Tradisi mesuryak ini diselenggarakan pada Hari Raya Kuningan di desa Pakraman Bongan Gede yang diikuti oleh masyarakat setempat dari anak-anak hingga orang dewasa baik itu perempuan maupun laki-laki. Mereka berbaur berdesak-desakan memperebutkan uang yang dilemparkan ke udara. Tidak jarang terjadi tubrukan dan terjatuh, tapi mereka tidak ada yang marah, bahkan dulu pernah seorang anak hingga pingsan, namun kejadian itu tidak memicu kemarahan. Masyarakat menyelamatkan anak yang bersangkutan bersama-sama. Dalam ritual mesuryak masyarakat bersorak penuh rasa suka cita sehingga suasana riang gembira tercipta. Suasana suka cita ini memperlihatkan keakraban sesama warga banjar adat Bongan Gede. Ritual mesuryak ini dilaksanakan pada saat Hari Raya Kuningan yang dimulai sekitar pukul 9.00 pagi. Maksud dari ritual ini adalah memberi sangu kepada para leluhur yang kembali ke alam lain setelah datang mengunjungi anggota keluarga pada saat Hari Raya Galungan. Ibarat anggota keluarga yang tinggal di kota lain seperti di Jakarta misalnya. Ketika datang berkunjung, lalu saat kembali ke Jakarta mereka diberi sangu. Masyarakat Bali yang beragama Hindu memiliki kepercayaan terhadap leluhur. Di Desa Adat Bongan Gede masyarakat memaknai Tumpek Pengarah, 25 hari sebelum Hari Raya Galungan tidak hanya sebagai ritual untuk memuja Dewa Sangkara untuk memohon agar melimpahkan berkah berupa hasil bumi khususnya hasil kebun untuk digunakan sarana upacara pada saat Hari Raya Galungan, tapi juga sebagai undangan kepada para leluhur agar datang mengunjungi anggota keluarga pada saat Hari Raya Galungan. Tradisi mesuryak ini sudah dilakukan sejak dahulu kala secara turun temurun, tidak ada anggota masyarakat yang tahu kapan persisnya tradisi ini dimulai. Menurut penuturan Drs. I Ketut Jana beserta I Wayan Guambi, S.Pd. sebagai anggota masyarakat yang dilahirkan di Bongan Gede, tradisi mesuryak ini sudah ada sejak beliau masih kecil. Akan tetapi dulu tradisi ini namanya bukan Mesuryak, tapi Megarang. Pada tahun 1960 an, pada waktu beliau ikut megarang. Megarang artinya berebut. Pada waktu itu uang yang dipakai dalam melakukan ritual tersebut adalah uang kepeng. Beliau ikut berebut uang kepeng untuk digunakan Metembing.  Metembing adalah permainan tradisional berkompetisi memasukkan sejumlah uang kepeng ke dalam lobang yang dibuat di tanah dengan jalan melemparkannya.

Istilah mesuryak sebagai ganti dari megarang itu baru muncul pada tahun 1980 an. Bukan hanya istilahnya saja yang diganti, tapi juga sarananya. Uang yang digunakan dalam ritual mesuryak berubah dari uang kepeng menjadi uang kertas dan uang logam, hal ini tentunya dipengaruhi juga oleh perkembangan zaman. Pagi-pagi sebelum ritual itu dimulai, warga masyarakat Bongan Gede melakukan persembahyangan bersama di kayangan tiga. Setelah selesai bersembahyang di kahyangn tiga, masing-masing keluarga kemudian melakukan persembahyang di pemerajan masing-masing. Setelah selesai sembahyang di pemerajan, anggota keluarga lalu mengantar leluhurnya hingga di lebuh, depan gerbang rumah.

Gambar 1: Menghaturkan banten di depan gerbang rumah sebelum memulai Tradisi Mesuryak. Sumber gambar : Koleksi pribadi Priya Rajeswari.

Setelah tiba di depan gerbang, ritual mesuryak dimulai sekitar pukul 8.00 atau 9.00 dan berakhir sebelum pukul 12.00 karena orang-orang percaya bahwa leluhur kembali ke alam lain pada saat pukul 12.00. Anggota keluarga yang melakukan ritual mesuryak melemparkan uang, baik itu uang kertas maupun uang logam ke atas kepala. Ketika uang itu jatuh ke tanah, orang-orang berebut untuk menangkap uang yang dilemparkan itu. Uang yang dilemparkan itu beragam nilai nominalnya, dari yang bernilai nominal 1.000 hingga 100.000 secara simbolik uang yang dilemparkan itu merupakan sangu untuk para leluhur yang kembali ke alam lain setelah tinggal beberapa hari saat perayaan Hari Raya Gaungan dan Kuningan, namun di balik semua itu, melemparkan sejumlah uang merupakan ajang berbagi dengan sesama. Bagi mereka yang mendapat rezeki lebih bersedia berbagi dengan warga masyarakat dan anak-anak melalui ritual melemparkan uang ke udara. Dalam berbagi tidak ada paksaan tentang jumlah uang yang akan dilemparkan ke udara. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhlasan sehingga baik warga yang melemparkan uang ke udara maupun warga masyarakat yang berebut memungut uang sama-sama merasa senang. Yang melemparkan uang merasa senang mendapat kesempatan untuk berbagi dan yang memungut uang-uang tersebut juga merasa senang karena mendapat rezeki. Sesuai dengan berita yang dilansir oleh radarbali.jawapos.com, tiga tahun yang lalu, pada bulan Juni tahun 2018, jumlah keseluruhan atau total uang yang dibagikan dalam tradisi mesuryak mencapai 50 juta rupiah. Jumlah ini lumayan besar untuk ukuran lingkungan satu banjar adat. Masyarakat setempat percaya bahwa dengan melemparkan uang ke udara yang membuat orang-orang bersorak kegembiraan berebut memungut uang menyebabkan leluhur mereka merasa senang dan bahagia menyaksikan keturunan mereka bersuka cita sehingga perjalanan mereka kembali ke alam lain dengan perasaan tanpa beban.

Gambar 2: Tradisi Mesuryak di Banjar Bongan Gede, Tabanan. Hari Sabtu, 20 November 2021. Sumber gambar: Koleksi pribadi Priya Rajeswari.

Tradisi Mesuryak yang merupakan perwujudan rasa syukur atas berkah yang telah diterima selalu dilaksanakan setiap 210 hari tepatnya pada setiap Hari Raya Kuningan. Saat pandemipun ritual ini tetap diadakan hanya saja dalam sekala yang lebih kecil untuk menghindari terjadinya kerumunan orang-orang yang berpotensi dalam penyebaran Covid-19. Tradisi mesuryak itu tidak pernah absen untuk dilaksanakan karena tradisi mesuryak memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat Bongan Gede berupa dampak religius, social dan ekonomi. Dampak religius berupa rasa syukur dan keikhlasan berbagi terhadap sesama. Dampak sosial yaitu keakraban, kebersamaan dan suka cita sesama warga masyarakat Bongan Gede dan dampak ekonomi yaitu bertambahnya jumlah perputaran uang di kalangan masyrakat setempat.

Tradisi memberi leluhur sangu sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Bongan Gede saja, melainkan juga dilakukan di desa-desa atau di banjar-banjar lainnya di daerah Tabanan selatan seperti di Grokgak, Dukuh, Tegal, Delod Rurung Bongan Kauh dan yang lainnya, tetapi tradisi atau ritual itu dilakukan hanya di lingkungan kecil yaitu di lingkungan keluarga kecil saja, sementara di Bongan Gede dilakukan secara masal sehingga yang dikenal oleh masyarakat umum tradisi mesuryak itu hanya ada di Bongan Gede. Mengingat tradisi mesuryak ini unik maka tradisi ini memiliki potensi besar untuk dikemas sebagai wisata religi dan wisata budaya untuk para wisatawan yang kebetulan berlibur di Bali saat perayaan Hari Raya Kuningan. Dengan mengemas tradisi mesuryak sebagai daya tarik wisata, akan menyebabkan adanya tambahan daerah tujuan wisata di Tabanan.

 

Penulis:
Ni Made Gita Kusuma Yanti – Jegeg Tabanan 2021

Sumber-sumber:
Mustofa, A. 2018. Simbol Leluhur Datang Bawa Kebahagiaan, Total Bisa Bagikan Rp. 50 Juta. https://radarbali.jawapos.com/features/10/06/2018/simbol-leluhur-datang-bawa-kebahagiaan-total-bisa-bagikan-rp-50-juta.
Pitana, I Gede. 2000. Cultural Tourism in Bali: A Critical Appreciation,Denpasar: Research Center for Culture and Tourism University of Udayana.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *