Pengerupukan di Tengah Pandemi? Tanpa Ogoh-Ogoh?

Sudah hampir 2 tahun sejak mewabahnya virus covid-19 di Indonesia, Bali yang dikenal dengan pariwisata budayanya harus melakukan penyesuaian dengan budaya dan tradisi masyarakat setempat. Banyak kegiatan sosial mulai dari sekolah hingga bekerja kita lakukan dengan mempertimbangkan penularan virus covid-19. lalu bagaimana dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali?
Bali yang terkenal akan pariwisata berbasis budayanya yang mana sangat memegang teguh konsep “menyama braya” harus terdiam sejenak untuk bernafas dan memikirkan kembali 2 hingga 3 kali dalam pelaksanaan adat dan budayanya. Tidak sedikit budaya masyarakat Bali yang melibatkan masyarakat luas, terlebih lagi hampir keseluruhan budaya yang menyangkut masyarakat luas ini adalah cerminan yang dapat menggambarkan Bali di mata dunia, seperti adanya budaya pawai ogoh ogoh ketika pengerupukan berlangsung.

Sumber: Pinterest.PanduAdnyana.Ogoh-ogoh

Mungkin 9 dari 10 orang akan setuju jika pawai ogoh-ogoh merupakan budaya yang sudah melekat dan identik dengan Bali di mata dunia. Namun, tidak bisa kita cekal juga bahwa tradisi ogoh ogoh ini harus kita tiadakan sementara karena permasalahan dunia yang sedang berlangsung. Lantas dengan keadaan dunia yang memaksa ogoh ogoh ini tidak dilaksanakan dalam 2 tahun terakhir, apakah mengubah esensi budaya Bali?
Hari Raya Nyepi memang sudah identik dengan perayaan yang sederhana dan penuh makna. Penyucian jiwa dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian adalah wujud kesederhanaan umat Hindu di Indonesia. Sebagaimana tujuan dari Hari Raya Nyepi sendiri ialah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). salah satu rangkaian hari raya nyepi dibali adalah dengan adanya pengerupukan.
Upacara pengerupukan sendiri dilakukan dengan tujuan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar. Menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori seluruh pekarangan, serta memukul benda apa saja hingga bersuara ramai/gaduh merupakan beberapa cara dalam mengimplementasikan tujuan pengerupakan itu sendiri. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan yang kemudian dibakar. Perlu di ketahui juga bahwa ogoh ogoh sendiri bukanlah bagian dari ritual perayaan Nyepi, melainkan bagian dari kreativitas dan budaya masyarakat Bali (Prabandari,2019).
Meskipun sejatinya bukan bagian dari ritual Nyepi secara langsung, semeton pasti setuju bahwa ogoh-ogoh tetap tidak bisa dipisahkan dari Hari Raya Nyepi karena tradisi ini lahir dari budaya dan dinamika masyarakat asli Bali, tidak ada hari selain hari raya nyepi yang dapat membawakan suasana pengerupukan dengan iringan gamelan serta ogoh-ogoh di Bali.
Namun demikian, jika memang situasi tidak bisa memungkinkan untuk diadakannya pawai ogoh ogoh, hari raya nyepi tidak akan berubah esensi serta maknanya dalam penyucian Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Maka dari itu istirahat sejenak dan memanfaatkan waktu untuk “bernafas” demi budaya yang berkembang dan berkelanjutan patut kita pertimbangkan untuk Bali bangkit kembali dewasa ini.

 

Penulis :

I Made Jaya Agastya – Bagus Badung 2021

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *