Keunikan di Balik Kesakralan Tari Baris Jangkang

Gambar: Tari Baris Jangkang (klungkungkab.go.id)

Akrab dengan panggilan Pulau Seribu Pura, Bali berdiri di atas berbagai macam warisan kekayaan baik dari sudut pandang keindahan alam maupun tradisi budaya dan manusianya tersendiri. Salah satu kekayaan tradisi yang mencirikan pulau Bali yakni tariannya. Tarian daerah yang lahir di Bali tersebar di seluruh penjuru pulau, termasuk Kabupaten Klungkung. Belum lama ini, terdapat satu tarian daerah dari Kabupaten Klungkung, tepatnya dari Nusa Penida yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada bulan November 2019 lalu. Tarian tersebut yaitu Tari Baris Jangkang.

Diperagakan sebagai tarian sakral, tarian yang berasal dari Dusun Pelilit, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, tari Baris Jangkang memiliki keunikannya sendiri baik secara filosofis, gerakan, dan juga sarana penunjangnya. Kata ‘Baris’ yang berasal dari kata ‘bebaris’ yang dapat diartikan pasukan dan “Jangkang” berasal dari sejarah tarian ini Ketika musuh menerima kekalahan melawan Desa Pelilit dengan berlari terjengkang-jengkang. Dari sejarah tersebut, tari Baris Jangkang dimaknai sebagai tarian yang menyimbolkan keperwiraan atau kepahlawanan yang menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Sebagai tarian yang tergolong tari sakral atau tari wali, tari Baris Jangkang hanya dapat dipentaskan pada saat upacara keagamaan yakni sebagai tarian pengiring sebuah prosesi dalam pelaksanaan upacara tertentu sekaligus dipercayai sebagai penolak bala dan melindungi desa dari wabah penyakit. Namun, seiring perkembangan zaman agar tarian ini tetap dapat dilestarikan, tari Baris Jangkang juga kerap ditampilkan pada acara-acara besar budaya seperti halnya Festival Nusa Penida, Semarapura Festival, Pesta Kesenian Bali, dan kegiatan lainnya.

Tari Baris Jangkang terlahir sejak masa kerajaan di Klungkung. Ketika mendengar kata Baris Jangkang, sosok yang paling melekat bernama I Jero Kulit. Suatu ketika Beliau memukul kempur, tempat makanan babi yang terbuat dari perunggu, dan tak disangka suara yang dihasilkan sangat dahsyat. Kemudian, I Jero Kulit diizinkan untuk membawa kempur tersebut ke kampung halamannya yakni Dusun Pelilit dengan syarat beliau harus dapat menciptakan sebuah tarian. Ketika Kembali ke Dusun Pelilit, saat itu ditemui adanya peperangan antara Dusun Pelilit dengan desa sekitar. Dengam dimulainya perang tersebut, pada saat itu pula I Jero Kulit memukul kempur dan mengeluarkan suara yang sangat dahsyat ditambah dengan rumput ilalang yang ikut bergerak di sekitarnya, musuh yang melihat padang ilalang yang bergerak tersebut ibarat tombak yang siap menyerang dan mendengar suara kempur yang dahsyat itu membuat musuh ketakutan dan menyerah. Dapat dikatakan bahwa tarian Baris Jangkang menggambarkan tokoh keprajuritan yang dihasilkan dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan musuhnya pada saat peperangan itu.

Tarian Baris Jangkang yang ditarikan oleh 9 orang laki-laki sebagai penggambaran arah mata angin ini tak hanya memiliki makna filosofis atau sejarah yang kental, sarana penunjang lainnya pun amat mengesankan. Kostum yang digunakan oleh para penari terdiri dari hiasan kepala yang disebut udeng, menggunakan baju putih, celana panjang, kain atau kamen berwarna putih, dan dibalut dengan kain saput atau kain yang merupakan warisan budaya lokal yakni kain Cepuk atau kain khas yang berasal dari Nusa Penida.

Di samping itu, tombak yang ujungnya berisi daun ilalang yang menggambarkan sosok prajurit tangguh dan gagah berani dalam menghadapi musuh juga turut melengkapi sarana tarian sacral ini. Ilalang yang terdapat pada tombak tersebut dikaitkan dengan sejarah pada saat peperangan terjadi. Adapun karakteristik tarian ini antara lain, mempunyai gerakan yang sederhana dengan nama yang unik seperti guak maling taluh, buyung masugi, jelatik maisik yang disesuaikan dengan kegiatan masyarakat setempat. Tata rias dari tarian ini juga sangat sederhana. Instrumen-instrumen yang digunakan untuk menghasilkan musik yang mengiringi tarian Baris Jangkang yakni Kempur, 2 buah kendang, 1 buah petuk, dan 1 buah cenceng kecil, serta keseluruhan perangkat tersebut disebut Gamelan Batel. Sebagai salah satu tradisi lokal, tari Baris Jangkang sudah sepatutnya untuk tetap dilestarikan dengan aturan dan kesesuaian dari tarian itu sendiri.

Penulis:
Ni Kadek Lestya Adnya Suari – Jegeg Klungkung 2021

Sumber-sumber:
Dewa, Santana ja. 2014. Tari Baris Jangkang “Berawal dari Suara Kempul”.            https://waklaba.blogspot.com/2014/07/tari-baris-jangkang-berawal-dari-suara.html.          Diakses pada 16 November 2021 pukul 18.12.
Klungkung, Kabupaten. 2019. Mendikbud Tetapkan Tari Baris Jangkang Nusa Penida Sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia. https://klungkungkab.go.id/berita/detail/mendikbud-tetapkan-tari-baris-jangkang-nusa-penida-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-indonesia. Diakses pada 17 November 2021 pukul 18.30.
TV, Kompas. 2021. Baris Jangkang Pelilit Tarian Khas Nusa Penida.           https://youtu.be/lCD3945EdDM. Diakses pada 17 November 2021 pukul 18.35.
Wantiasih, Ayu. 2013. Pewarisan Nilai-nilai Kepahlawanan Melalui Pementasan Baris Jangkang    di Desa Pakraman Pelilit, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Universitas Pendidikan Ganesha.