Kampung Loloan, Bukti Keberagaman Budaya di Bumi Makepung

Keberagaman budaya merupakan kondisi masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku bangsa, bahasa dan budaya. Keberagaam budaya memegang peranan penting dalam membentuk identitas suatu daerah. Keberagaman budaya yang diwariskan oleh leluhur dan dilestarikan tentu akan menjadi sebuah kebudayan yang unik, seperti yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia termasuk juga Bali. Akulturasi kebudayaan yang menambah kebudayaan Bali berawal dari agama Islam yang memasuki Bali dan akhirnya berkembang. Hal tersebut tercermin dari banyaknya perkampungan muslim di Bali salah satunya yaitu Desa Loloan.
Kampung Loloan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Desa Loloan merupakan wilayah dengan masyarakat muslim terbesar di Bali. Desa Loloan terletak di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Desa Loloan berjarak sekitar 90 km dari kota Denpasar dan berjarak 25 km dari Pelabuhan Gilimanuk. Desa Loloan merupakan sebuah kampung yang terbentuk dari dua wilayah kelurahan yaitu Kelurahan Loloan Timur dan Loloan Barat. Sungai yang Bernama Sungai Ijogading menjadi pemisah kedua wilayah Loloan ini. Masyarakat yang mendiami Desa Loloan didominasi oleh etnis Melayu (Johor, Pahang, Trengganu, Kedah), Bugis (Sulawesi Selatan), Cina, Arab, dan Jawa, selain etnis lokal Bali. Masuknya Islam di Kerajaan Jembrana pada abad ke-17 dan ke-18 menjadi salah satu penyebab adanya keberadaan etnis pendatang di Loloan di mana mewarnai sejarah Kerajaan Jembrana dalam mempertahankan wilayah Jembrana dari penjajahan pada masa itu.
Awal kedatangan etnis pendatang dimulai dari pasukan Suku Bugis yang berkunjung ke Bali kemudian menetap di sekitar muara yang ada di Desa Perancak. Setelah menatap dengan waktu yang cukup lama, kemudian orang-orang Suku Bugis memutuskan untuk pindah dan bermukim di area sepanjang jalur Sungai Ijo Gading. Keberadaan Suku Bugis di jalur sepanjang Sungai Ijo Gading kemudian menarik kedatangan Suku Melayu ke Bali karena hubungan baik yang dijalin oleh kedua suku tersebut dengan masyarakat Hindu Bali di sana. Penguasa Jembrana, I Gusti Arya Pancoran pun memberikan izin untuk menempati wilayah di daerah Loloan. Pemberian izin tinggal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Desa Loloan Jembrana dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam yang kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kabupaten Jembrana. Desa Loloan yang dihuni oleh banyak suku telah menjadi kancah tempat penuangan segala kebudayaan dari suku-suku tersebut sehingga timbullah suatu kebudayaan campuran yang mudah mengalami perubahan terutama perubahan lingkup ajaran-ajaran Islam sehingga timbul corak hidup yang sekarang ini.

Gambar: Rumah Panggung Loloan (Sumber: https://radarbali.jawapos.com/berita-daerah/radar-jemberana/05/02/2019/mulai-punah-rumah-panggung-loloan-diusulkan-jadi-cagar-budaya)

Keberagaman yang timbul akibat dari akulturasi tersebut dapat dilihat dari bentuk tempat tinggal berupa arsitektur tradisional rumah panggung. Rumah panggung merupakan rumah yang tidak berdiri di atas tanah melainkan disokong atau didukung oleh sejumlah tiang-tiang vertikal. Rumah panggung menjadi ciri karakter permukiman yang menjadi bukti peninggalan eskuardon Bugis (Kesultanan Wajo) di Desa Loloan. Hingga saat ini, dalam hal arsitektur eksistensi rumah panggung Loloan sudah mengalami banyak perubahan. Umumnya, rumah panggung terbagi menjadi 3 kolong yakni kolong atas di sebut atas pare yang berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-barang seperti beras, gabah dan lain-lain, kolong tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu, kamar tengah dan ruang makan, sedangkan kolong bawah memiliki fungsi yang beragam. Rumah panggung Loloan memiliki ciri khas yaitu rumah menghadap ke utara dengan pintu masuk yang berada di sebelah timur. Hal tersebut dikarenakan umat muslim menunaikan ibadah sholat menghadap ke barat. Karakteristik unik dari rumah panggung Loloan yang cukup khas yaitu rumah ditopang oleh tiang-tiang utama dari kayu tangi. Keunikan lain dari rumah panggung Loloan dapat dilihat dari bentuk tiangnya tidak halus dan kasar yang artinya dibuat secara manual dengan menggunakan alat kapak miring atau sering disebut timpas. Rumah panggung Loloan ini dalam pembuatannya sama sekali tanpa menggunakan paku yang kita kenal sekarang, melainkan menggunakan pasak kayu sebagai pengunci setiap sambungan. Sehingga hal ini memudahkan dalam bongkar dan pasang (sistem knock down).

Selain unsur kebendaan (tangible), terdapat juga hal menarik yang membentuk karakter sosial masyarakat di Desa Loloan yaitu antara etnis pendatang dengan etnis lokal Bali terjadi kontak sosial salah satunya dengan komunikasi melalui media bahasa. Mayoritas penduduk pendatang menggunakan bahasa Melayu, sedangkan masyarakat lokal Bali menggunakan bahasa Bali. Bahasa Bali memiliki pengaruh terhadap percakapan dengan bahasa Melayu Loloan yaitu dalam unsur bahasa, kosakata, bunyi dan bidang bahasa Bali lainnya. Bahasa pengantar yang digunakan oleh masyarakat Desa Loloan bukanlah Bahasa Bali, Bahasa Melayu ataupun Bugis. Masyarakat Loloan menyebut Bahasa tersebut sebagai Base Loloan (Bahasa Loloan). Pelafalan Bahasa ini memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu oleh karena itu, tak jarang jika Bahasa Loloan ini sering juga disebut dengan Bahasa Melayu Bali. Selain menggunakan bahasa Melayu Loloan dan Bahasa Bali, masyarakat juga menggunakan Bahasa Indonesia. Hal ini karena menurut masyarakat, Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan Bahasa Bali. Bahasa Indonesia dianggap lebih universal dari sudut pandang sebagai rakyat Indonesia dan tidak memiliki konotasi keragaman tertentu. Sehingga Bahasa Indonesia juga umum digunakan dalam kegiatan keagamaan.
Toleransi antar sesama di Desa Loloan pun sangat baik mengingat desa tersebut merupakan desa yang dihuni oleh orang dari berbagai suku, bahasa dan agama. Hal tersebut dapat dilihat dari tradisi ngejot yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi ini dilakukan ketika salah satu warga, baik Hindu maupun Muslim memiliki upacara adat akan mengundang warga lain, atau mengirimkan makanan sebagai ungkapkan rasa syukur. Ketika salah satu keluarga Muslim mengadakan acara seperti kelahiran, pernikahan, maupun perayaan lainnya, maka keluarga tersebut akan mengundang warga Hindu atau mengantarkan makanan untuk warga Hindu. Warga yang diundang pun akan hadir dengan membawa sembako seperti beras, kopi, gula, dan lain sebagainya. Begitu pun ketika bulan Ramadhan, sebagai salah satu bentuk menghargai umat Muslim maka warga Hindu akan ngejot makanan berbuka seperti ketupat, buah, aneka es, dan lain sebagainya. Tradisi ngejot yang dilaksanakan di Desa Loloan merupakan wujud dari rasa persaudaraan dan kemanusiaan antar umat yang tinggal di sana. Biasanya tradisi ini dilakukan pada saat hari keagamaan baik Hindu maupun Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Galungan, Kuningan dan Nyepi dan juga ketika umat Hindu atau Islam memiliki acara seperti pernikahan, kelahiran ataupun hajatan-hajatan lainnya. Tradisi ngejot memberikan dampak positif yang luar biasa. Tradisi ini pun terus ditanamkan sejak dini terutama di lingkungan keluarga agar tradisi ini tidak pernah hilang dan terus berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya.
Keberagaman budaya di suatu daerah tanpa sadar menyusun identitas dan ciri dari daerah tersebut. Budaya yang berbeda akan membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi spirit dari daerah tersebut yang tentu saja berpengaruh juga pada kehidupan masyarakat di dalamnya. Dengan demikian, sebagai generassi penerus yang tidak hanya menjaga dan melestarikan budaya, tentunya harus menjadi spirit dari setiap budaya yang dimiliki.

 

Penulis:
Ni Ketut Ayu Krisna Devi – Jegeg Jembrana 2021

Sumber-sumber:

Asdhiana, I. M. 2015. Menyambangi Kampung Islam di Loloan Bali. https://travel.kompas.com/read/2015/07/11/115045527/Menyambangi.Kampung.Islam.di.Loloan.Bali?page=all. Diakses pada tanggal 19 November 2021.
Baihaki, I. 2018. Kampung Loloan Jembrana, Perkampungan Muslim yang Unik, Perpaduan Budaya Bugis, Melayu, dan Bali. https://www.kintamani.id/kampung-loloan-jembrana-perkampungan-muslim-yang-unik-perpaduan-budaya-bugis-melayu-dan-bali/. Diakses pada tanggal 19 November 2021.
Maulida, N., T. Maryati, dan K. Sedana Arta. 2019. Pemertahanan Identitas Etnik Bugis-Melayu Di Kelurahan Loloan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali Dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di MA. Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah. Vol 7(2).
Mustofa, A. 2019. Mulai Punah, Rumah Panggung Loloan Diusulkan Jadi Cagar Budaya. https://radarbali.jawapos.com/berita-daerah/radar-jemberana/05/02/2019/mulai-punah-rumah-panggung-loloan-diusulkan-jadi-cagar-budaya. Diakses pada tanggal 20 November 2021
Pramesti, D. S. 2014. Sistem Spasial dan Tipologi Rumah Panggung di Desa Loloan, Jembrana (Bali). E-Jurnal: Ruang-Space (Jurnal Lingkungan Binaan). Vol 1(1):66-84.
Putri, V. K. M. 2021. Manfaat Keberagaman Budaya bagi Suatu Bangsa. https://www.kompas.com/skola/read/2021/09/27/143855269/manfaat-keberagaman-budaya-bagi-suatu-bangsa. Diakses pada tanggal 19 November 2021.
Sabara, E. 2021. Rumah Panggung Loloan, Ikon Unik dari Bali Barat. https://www.balisharing.com/2021/04/02/rumah-panggung-loloan-ikon-unik-dari-bali-barat/. Diakses pada tanggal 19 November 2021
Saihu. 2021. Harmoni Hindu-Muslim di Bali Melalui Kearifan Lokal: Studi Di Kabupaten Jembrana. Jurnal Multikultural & Multireligius. Vol 19(1):8-26.
Utami, N. W. F., dan N. Kohdrata. 2016. Identifikasi Keunikan Lansekap Kampung Loloan di Jembrana. E-Jurnal Arsitektur Lansekap. Vol 2(1):41-50.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *