Budaya Kolektif Perlu Adaptasi, Bukan Semata Berlandaskan Agama dan Tradisi

Menghadapi persoalan dunia mengenai pandemi Covid-19 mengharuskan kita sebagai masyarakat hindu untuk beradaptasi dengan adat dan tradisi budaya kolektif yang kita lakukan di lingkungan masyarakat. Terlebih pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam mengharuskan masyarakat melakukan sosial atau physical distancing. Contohnya dalam pelaksanaan pengerupukan yang dilakukan tanpa adanya ogoh ogoh, melasti tanpa melibatkan masyarakat luas, hingga upacara ngaben dengan mempergunakan ambulan. Lalu apakah budaya kolektif kita seperti menyama braya dengan masyarakat banjar dan desa harus bisa kita adaptasikan atau kita antitesiskan dengan landasan agama dan tradisi?
Tidaklah mudah dalam mengimplementasikan kebijakan sosial atau physical distancing pada karakter masyarakat indonesia yang menjunjung budaya kolektif. Dalam penerapan kebijakan ini masyarakat seolah dipaksa untuk menjadi individualis dengan tidak melakukan kegiatan berkumpul demi memutuskan rantai Covid-19, namun tetap mengupayakan bagaimana caranya agar kegiatan upacara tetap berjalan tanpa mengurangi makna dan nilai di dalamnya. Sedangkan pelaksanaan tradisi dan adat hindu di Bali sebagian besar merupakan upacara dengan rangkaian kegiatan yang banyak serta mengundang keramaian masyarakat.
Bali merupakan salah satu daerah yang masih menganut sistem kepercayaan tradisi yang kental. Salah satunya upacara ngaben yang merupakan upacara Pitra Yadnya yaitu pengembalian jasad dan raga manusia kepada asalnya. upacara ngaben ini sangatlah identik dengan proses pembakaran mayat. ngaben sendiri adalah suatu kearifan lokal dimana merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat hindu bali. kearifan lokal dibentuk untuk kebaikan bersama dan tidak ada yang salah sehingga di masa pandemi seperti ini seharusnya bisa menyesuaikan. selain merupakan sebuah kearifan lokal ngaben sampai saat ini masih menjadi salah satu daya tarik pariwisata karena keunikannya yang tidak bisa ditemukan di daerah lainnya. Dalam situasi seperti ini banyak pandangan pro dan kontra yang ditemui pada masyarakat mengenai kebijakan pembatasan dalam upacara ngaben ini. Seperti penggunaan ambulan sebagai pengganti bade dalam upacara ngaben untuk mengurangi jumlah kerumunan. Beberapa masyarakat menilai hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang diterapkan, namun jika kita melihat dari segi positifnya seperti nilai ergonomis dan pencegahan Covid-19 tentu hal ini menjadi solusi yang sangat baik dan layak diterapkan. Atau kejadian ngaben yang sempat viral beberapa bulan lalu, menggunakan perangkat musik elektronik untuk pengiringan gamelan selama upacara berlangsung tanpa menggunakan gamelan asli dengan orang yang memainkannya langsung ini juga sempat menimbulkan pro dan kontra dari sudut pandang masyarakat.
Jika kita melihat dari segi agama dan adat dalam melakukan upacara agama, mungkin kita tidak asing dengan tingkatan secara kuantitas upacara yadnya Hindu yaitu ada nista, madya dan utama yang masing-masingnya dibagi kembali menjadi 3 yaitu ada nista dengan pembagiannya nistaning nista, nistaning madya, nistaning utama, lalu madya dengan pembagiannya madyaning nista, madyaning madya, madyaning utama, dan terakhir ada utama dengan pembagiannya utamaning nista, utamaning madya, utamaning utama. Jika kita bisa melihat secara positif, dalam melaksanakan upacara yadnya tidaklah ada tuntutan yang mengharuskan kita dalam menjalaninya dengan patukan pasti harus terisi lengkap dan mewah. semua dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang itu sendiri dalam menjalaninya. yang terpenting adalah bagaimana ketulusan, makna dan rangkaian yang dilakukan dengan khusuk, tertib dan aman.
Pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, budaya kolektif tidaklah seharusnya dijadikan antitesis melainkan perlu dilakukan adaptasi. Walaupun  hal  ini  memicu  timbulnya banyak konflik pada masyarakat,  tetapi  ada  beberapa  sisi  positif  yang  dapat  diambil  agar tidak terbentuknya klaster baru dalam virus Covid-19 ini. Bukan semata-mata menolak menyama braya, tapi bentuk dan caranya saja yang harus bisa kita sesuaikan. Menjaga jarak atau tidak membuat kerumunan bukan berarti harus menjadi individualis dalam melakukan suatu hal. Contohnya pada upacara keagamaan ngaben ini, kita bisa membuka sudut pandang baru kearah positif, seperti yaitu dari segi ekonomi kita bisa mengurangi biaya upacara  yang jauh lebih efisien, serta kita bisa lebih fokus  pada  tata  titi  upacara  atau  rangkaian upacara  yang  harus  dilewati. Selain itu, momen yadnya yang dilakukan hanya bersama keluarga terdekat dan dapat menjalin keharmonisan dalam keluarga. Pemerintah juga selalu menghimbau agar mentaati protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan mencuci tangan. Jadi marilah kita belajar untuk menerima dalam artian untuk bisa selalu beradaptasi meskipun dalam waktu, ruang dan keadaan apapun karena menolak dan acuh hanya berlandaskan dari satu pandangan saja justru akan membawa masalah-masalah baru yang tidak akan ada habisnya untuk diselesaikan. Mari kita jalani prosesi upacara adat dan agama dengan tertib, aman dan bertanggung jawab

 

Penulis :
Putu Arsita Wahyu Devani – Jegeg Bagus Badung

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *